Showing posts with label thoughts. Show all posts
Showing posts with label thoughts. Show all posts

Thursday, September 3, 2009

Tentang Kebahagiaan *

“Happy, but for so happy ill secured.”
- Milton

“Gue lihat lu jadi pemasalah di Madrasah Falsafah Tobucil Rabu besok. Ngomongin kebahagiaan, ya? Emang lu bahagia?” ujar seorang kawan di penghujung saluran telepon. Entah mengapa ia merasa terdorong untuk menyengaja bertanya setelah melihat di situs Multiply Tobucil bahwa saya bakal menghantarkan obrolan sore tentang kebahagiaan.

Sumbang suara kekeh saya menjawab tanya yang ia serukan. Ya, saya memang tak punya jawaban lain, selain ketawa [setengah] terpaksa yang pasti bakal diprotes Trie Utami karena nadanya tidakpitch. Sejujurnya, mungkin saya adalah orang yang paling tidak kompeten untuk bicara tentang kebahagiaan. Terlebih jika bahagia yang dimaksud mesti memenuhi standar umum yang berlaku di masyarakat kelas menengah tempat saya menetap.

Nggak percaya? Oke, saya perkenalkan diri saya pada anda. Saya seorang perempuan yang tidak menikah, berusia nyaris 35 tahun. Boro-boro menikah, status saya sebagai jomblo permanen sudah kadung kondang di kalangan para teman dan temannya teman-teman. Kondisi ini saja mestinya sudah bisa bikin depresi dan nyaris bunuh diri, mengingat saya tinggal di sebuah komunitas yang meyakini bahwa perempuan mesti selekasnya ’laku’ dinikahi sebelum usia produktifnya untuk beranak-pinak meredup digilas waktu—namun entah kenapa, sejauh ini saya masih betah hidup dan rajin ketawa-ketiwi.

Itu baru soal status berpasangan. Pekerjaan? Hmm, saya mendapat predikat ’orang aneh’ untuk sektor ini. Soalnya saya selama ini bekerja sekedar untuk menafkahi diri sambil bersenang-senang dalam lingkup berbagai komunitas yang menarik buat saya. Segala diskusi dari politik, filsafat, sampai seni rajin saya kunjungi. Itu sih hobi, maka tak terlalu salah jika seorang kawan menjuluki saya mesin diskusi. Nah, menyadari bahwa saya butuh makan dan biaya transport buat berkeliaran dari satu ruang diskusi ke ruang diskusi lainnya, maka saya bekerja sebagai penyiar di salah satu radio swasta. Buat saya sih, ini menyenangkan. Saya tinggal mengoceh tentang berbagai hal yang memang biasanya jadi bahan obrolan sehari-hari dengan teman-teman, memutarkan lagu-lagu yang saya suka, dan dibayar untuk itu semua. Ya, penghasilannya sekedar nyaris cukup, sih. Tapi ya sudah, lah. Toh saya masih punya waktu untuk berkomunitas dan diskusi sana-sini. Jadi kalau bahagia diidentikkan dengan kelimpahan materi, kemampuan untuk membeli apapun yang diinginkan, atau liburan ke luar negeri, mestinya saya jadi manusia yang sangat sengsara. Sebab kebahagiaan dalam bentuk itu nggak bakal saya cecap dengan penghasilan saya sekarang.

Apa lagi? Keluarga saya sama disfungsionalnya dengan banyak keluarga lain. Hubungan afektif saya dengan teman-teman dekat mengalami naik turun serupa roller-coaster di anjungan Halilintar - Dufan. Kondisi mood saya sehari-hari mirip dengan grafik Nikkei di bursa saham. Relasi asmaratif saya babak belur tak berkesudahan.

Nah, kan! Percayalah, jika merunut semua alasan tadi, saya sungguh tidak kompeten bicara tentang kebahagiaan. Sebab, mestinya saya tidak berbahagia. Dan memang sampai hari ini, saya belum pernah mendeklarasikan diri sebagai orang yang berbahagia.

Selepas obrolan singkat dengan teman lewat telepon yang saya singgung di awal tadi, saya mulai merenungkan kebahagiaan. Saya tergerak untuk mengintip beberapa pendapat orang pintar yang tidak berprofesi sebagai dukun untuk mencari tahu makna bahagia di benak mereka. Lantas saya bersinggungan dengan pendapat John Stuart Mill yang merangkum makna bahagia dalam wadah moral. Kira-kira dia bilang kalau kita melakukan kebaikan, maka tindakan itu bakal membawa kita pada kebahagiaan. Ia juga menyamakan kebahagiaan dengan ’kesenangan dan tiadanya kepedihan’ [pleasure and the absence of pain]. Namun ia juga mengakui bahwa elemen ’kesenangan’ atau pleasure tidak hanya mesti hadir dalam kuantitas yang cukup, tapi juga harus memiliki kualitas yang baik. Ia mengelompokkan ’kesenangan’ dalam himpunan ’kesenangan rendah’ [berkait dengan hal-hal badaniah] dan ’kesenangan tinggi’ [kepuasan intelektual, rasa, imajinasi, dan kepuasan moral]**.

Itu kata Mill. Dia memang cerdas sih, tapi saya nggak sepakat sepenuhnya sama pendapat dia. Soalnya, buat saya pendapatnya itu rada kontradiktif. Semacam hibrid antara kesenangan [pleasure] yang sifatnya cenderung hedonistik bersandingan kontras dengan moral yang [kalau merunut tatanan di masa kehidupan Mill] sekaku ranting dan sekeras batu: lempeng, non-fleksibel, nggak ada lucu-lucunya.

Puas ngomelin tulisan Mill, saya lalu mencoba mengintip makna bahagia menurut J. Krishnamurti. Dia bilang, kebahagiaan itu sekedar merupakan efek samping doang; jadi kebahagiaan sebetulnya nggak terlalu penting. Kebahagiaan—atau tepatnya hal yang biasa dianggap kebahagiaan oleh kebanyakan orang—cuma sensasi sejenak yang niscaya bakal lenyap. Buat Krishnamurti, ada muatan esensial dalam kebahagiaan yang sejati. Maka kebahagiaan bukanlah tujuan akhir, sebab ketika ia menjadi tujuan akhir ia kehilangan makna sejatinya. Susahnya, manusia sering salah menyamakan kebahagiaan dengan sensasi yang membuat kita seakan-akan bahagia ***. Misalnya, seorang pemain sepakbola yang berhasil menembus gawang lawan dan mencetak gol akan merasakan sensasi yang melambungkan rasa, serupa dengan bahagia. Demikian juga dengan pegawai yang berhasil mendapatkan sebuah proyek karena presentasinya yang gemilang, atau seseorang yang tengah jatuh cinta dan berhasil ’jadian’. Sensasi. Semua cuma sensasi belaka.

Manusia tak bisa menemukan kebahagiaan dengan cara ini, menurut Krishnamurti. Bahagia sejati bukan sesuatu yang bisa dicari, dikejar, lalu ditangkap. Sebab kita bukan cicak dan bahagia bukanlah nyamuk. Kalaupun kita berusaha mendapatkan kebahagiaan dengan cara ini, yang kita dapat cuma letupan-letupan kecil sensasi serupa bahagia. Yang mencengangkan saya, Krishnamurti sedemikian keukeuh mengatakan bahagia itu nggak bisa dicari; dan kalaupun kita ngotot nyari, nggak mungkin ketemu; sampai-sampai pernyataan itu dia ulang beberapa kali dalam bukunya. Nah, lho! Mampus dah gue!

Saya panik. Sungguh. Tak bisa saya bayangkan hidup ini bakal berakhir tanpa bisa menemukan kebahagiaan. Sialan Krishnamurti! Saya menyesal baca bukunya.

Menyimak pemikiran orang-orang pintar tadi ternyata hanya membawa saya pada dingin gelap kabut kebingungan. Saya merasa sulit menerima kebahagiaan disejajarkan dengan kesenangan belaka, apalagi dikaitkan dengan moral. Ntar dulu! Moral yang kayak gimana maksudnya, dul? Moral mainstream yang male-stream? Huh! Enak aja. Urusan permoralan ini saja bisa jadi bahan diskusi tersendiri. Tapi saya juga nggak terima Krishnamurti bilang bahagia nggak mungkin ditemukan. Kampret! Terus ngapain gue hidup?

Dan selama berjam-jam saya manyun... Hingga saya merasa semakin tidak bahagia dengan mulut saya yang kian maju menyusul ukuran hidung saya yang tak seberapa signifikan. Cermin memantulkan imaji wajah kusut yang tidak karuan. Sebuah pemandangan blo’on yang membuat saya terbahak sendirian. Bukan tawa sumbang kali ini; tulus dan sepenuh hati saya menertawakan wajah, juga ekspresi kebingungan sejati yang terpancar di raut di yang terpantul di cermin itu.

Apakah saya bahagia? Ah, saya tak berhasil menemukan jawabnya. Mungkin saya mencari referensi yang salah. Mungkin saya tersesat pikir dalam mencari maknanya. Atau mungkin... Hey! Mungkin saya mengajukan pertanyaan yang salah.

Lantas saya memberanikan diri mengajukan pertanyaan dari perspektif yang berbeda. Apakah saya tidak bahagia? Nggak tuh. Saya tidak tak-berbahagia. Saya akui, saya memang jarang mengalami letupan sensasi euphoria yang biasanya diterjemahkan orang sebagai kebahagiaan. Tapi saya tak merasa keberatan dengan kondisi itu. Untuk beberapa orang sebagian pandangan saya berkait dengan moral ataupun tatanan nilai dianggap tak biasa. Namun saya telah lama berdamai dengan kenyataan itu, berdamai dengan perbedaan-perbedaan tersebut. Hidup tak selamanya ramah pada saya, namun sejauh ini saya selalu berhasil menemukan makna [sebagian orang menyebutnya hikmah] dari berbagai pengalaman yang pernah saya lalui—pengalaman menyenangkan ataupun tidak menyenangkan. Ada kalanya saya bersentuhan dengan sedih, getir, atau perih. Tapi semua orang memang selalu mendapatkan porsi tersendiri dari semua rasa itu, kan? Emang ada orang yang seumur hidup nggak pernah sedih? Kalau ada yang ngaku-ngaku, saya yakin dia nipu. Lagian, bahkan ketika tersungkur dalam kesedihan yang terkelam sekalipun, saya selalu punya keyakinan bahwa semua itu sementara. Hari ini sedih, kali aja besok semuanya membaik. Sebab, bukankah tiada hal yang abadi di dunia ini?

Sambil merenung, saya iseng membuka-buka buku catatan, hendak mencari inspirasi untuk menuliskan racau yang tengah anda baca ini. Dan saya menemukan sebuah kutipan dari Albert Camus [sayang saya lupa mengutipnya dari buku yang mana]: “In the midst of winter I finally learned that there was in me an invincible summer.”

Ya, jika kebahagiaan sejati dianalogikan sebagai musim panas yang disebut Camus tadi, maka kebahagiaan memang nggak usah dicari. Sebab ia ada. Selalu ada. Nggak bakal ketemu, kalau dicari diluar diri. Kebahagiaan sejati bermukim jauh di kedalaman hati, menanti kita untuk mengalirkannya dalam tiap sel tubuh, dan merembes di tiap rongga pori. Bahagia sejati nggak perlu diwartakan dalam deklarasi. Tanpa suara dan kata, ia memancar dan menginfeksi. Bahagia tak butuh letupan sensasi. Dengan tenang dan sabar ia menunggu kita untuk membiarkannya mendekap tubuh seperti selimut hangat yang melindungi dari dingin nan sunyi. Kebahagiaan bukan benda; ia tak bisa dimiliki, direbut, atau didominasi. Kebahagiaan bahkan tak butuh alasan untuk mewujud; kitalah yang mesti memelihara kesadaran bahwa ia tak pernah absen ataupun meredup. Kebahagiaan adalah sebuah perjalanan sukacita untuk menjadi.


Jadi, berbahagialah! Sekian dan terimakasih.



3 September 2008 ; 01.24















_________________________

* semacam catatan pengantar obrolan Rabu Sore di Madrasah Falsafah Tobucil Bandung, 3 September 2008

** John Stuart Mill, Utilitarianism

*** J. Krishnamurti, Reflections on the Self

Sunday, December 28, 2008

Pity

“I never see a wild thing
Sorry for itself.”

—D. H. Lawrence, “Self-Pity”

Did you ever see a wild thing feeling sorry for itself? Perhaps a tiny bird fallen from its nest? Or a kitten lost on its own in some alley? D. H. Lawrence claimed he never did; and neither did I.

Pity—it seems—is an entirely human trait. It’s a feeling we bestow towards those less fortunate than us. It moves us to lend a hand, to help, to sympathize on others’ grief and sorrow. Some of us do it for a gain, some others don’t. Hey! It’s all human.

Yet if you care to look closer, it might be interesting to observe how some people seemed to cultivate more pity than others. Some people seemed to know exactly what story to tell, what expression to wear, which word to use, and to whom they plead … they seemed to glow in their sorrow, playing their roles as victims in an Oscar-quality performance [well, not an Oscar-quality, perhaps. A Kelurahan Theater Competition on Tujuhbelas-Agustusan might do]. And so they cultivate pity like the Valkyries reaping lives in the battlefield. They know exactly how to capitalize each episode of their [usually] never ending sorrow.

Lately I was quite immersed in my observation of one such character. At the beginning, it amused me … that is, until I became nauseated. Well, call me cold-hearted, feel free. But when a beautiful woman with a perfect pedigree regards herself as a helpless little girl in her thirties, claims herself to be drowning in darkness and loneliness all the time—while those darkness and loneliness were obviously self-inflicted—what would you make of it? Surely you’ll be sick of it at some point! Still, it intrigued me how she managed to cultivate pity with such surgeon-like precision. How did she do that? Honestly, I came to admire her talent.

Then, in one misty morning, as I yawned myself through the veil of dawn, it hits me hard as fact: To be able to cultivate pity like that, one should have a monumental amount of self-pity. There is no other way. Pity yourself as if there is no tomorrow, and others would pity you like there’s no other sorrow.

So what would you do if one day you came face-to-face with this kind of character? Would you still let them flourishing in others’ pity? Would you turn away? Would you observe them as I did [it might be amusing for some time]? Or would you shake them hard, hoping they’d get a grip on their lives?

It’s up to you. But I know what I would do. I’d tell them to reclaim the responsibility upon their own dear lives; then I’d slowly turn away and move on to take the responsibility upon my life.

That would be enough for me.

27 December 2008 ; 16. 31

Saturday, May 10, 2008

Milik

Seorang perempuan murka, sebab kekasihnya tiba-tiba mengaku mencintai perempuan lain. Padahal mereka hendak menikah, dan janji-janji telah terucap. “Kita saling memiliki!” jeritnya mengoyak malam. Hening menjawabnya di tengah kelam.

Seorang lelaki meringkuk di sudut ruang, siang tadi ia baru diberi tahu, kontrak kerjanya tak akan diperpanjang. Ia tak tahu, bagaimana ia bisa mengabarkan musibah ini pada istrinya di rumah. Tiga anak mereka, semua mesti sekolah. Apa yang bisa ia lakukan? Kini ia bahkan tak sanggup melangkah pulang.

Seorang anak tersedu di pinggir selokan. Buku baru pemberian ibunya jatuh dan hanyut di tengah deras sisa air hujan. Sesiang tadi ia membacakan cerita dalam buku itu pada teman-temannya. Mereka asyik tenggelam dalam kisah petualangan seru yang membawa mereka menjelajah ruang fantasi tak berbatas. Kini buku itu hanyut sudah. Tak ada lagi bacaan seru.

Kehilangan adalah rasa yang selalu menyisakan getir tiap kali ia datang menyapa. Adakah diantara kita yang tak pernah merasakannya? Tidak. Tiada seorangpun terluput dari sentuhannya.

Mana yang lebih berat: kehilangan kekasih, pekerjaan, atau buku? Semua tergantung dari perspektif yang kita punya. Namun saya yakin, tiga individu yang saya sebut di atas merasakan kepedihan yang serupa. Dari titik di mana mereka berpijak, kehilangan yang mereka alami tentu terasa berat.

Ada kalanya seseorang merasa kehilangan segalanya. Sebab terkadang ‘kehilangan’ menyapa kita dalam bentuk jamak; menghantam bertubi tanpa ampun. Memporakporandakan dunia kecil kita; meruntuhkan langit, melontarkan kita ke ruang hampa tanpa pijakan tanpa naungan. Lantas kita tergoda untuk mengutuki hidup yang [seperti] tak punya rasa kasihan.

Ah, sungguhkah hidup sedemikian kejam? Mari kita telaah, apa sesungguhnya yang hilang.

Apakah kita memiliki orang yang kita sebut ‘kekasih’? Tidak. Ia manusia merdeka. Tak ada seorang pun yang bisa memiliki orang lainnya, sebab era perbudakan sudah lagi lewat ditelan arus zaman. Semua orang yang kita cintai bisa saja ‘lenyap’ dari hidup kita; entah karena ia memilih untuk menjalani hidup bersama orang lain, atau karena suatu alasan mesti memutuskan untuk berpisah, atau bahkan karena kematian.

Namun jika kita mencintai orang itu dengan tulus, apakah cinta itu hilang? Tidak, tak akan pernah. Kecuali jika kita memilih untuk mengabaikan cinta yang tulus tersebut dan membiarkannya hilang. Cinta yang tulus tak akan pernah bisa diambil orang lain.

Apakah kita memiliki pekerjaan yang kita lakukan sehari-hari? Tidak. Pekerjaan itu dipinjamkan oleh orang yang mempekerjakan kita… Hanya dipinjamkan. Dan bahkan itu pun bukan miliknya. Pekerjaan hanyalah sekedar nafkah penyambung hidup. Ia bisa hilang kapanpun, dengan beragam sebab yang acap kali datang di luar dugaan.

Ketika kita kehilangan pekerjaan, apakah lantas kita kehilangan kemampuan mencari nafkah, kehilangan daya juang untuk menghidupi diri dan menghidupi orang-orang yang kita kasihi? Tentu tidak. Kemampuan mencari nafkah, daya juang untuk menghidupi orang-orang tersayang tak bisa hilang dari kita, kecuali jika kita membiarkan diri tenggelam dalam keputusasaan. Tak ada yang bisa mengambilnya, hanya kita yang bisa menghilangkannya.

Apa yang penting dari sebuah buku? Substansinya. Secara fisik, sebuah buku hanyalah setumpuk kertas bertulisan yang terjilid dalam sebuah kesatuan. Itu saja, tak lebih. Yang membuatnya penting adalah isinya, kisah yang tertulis di dalamnya, buah pikiran penulis yang tersampaikan pada kita. Ketika kita berhasil menyerap substansi sebuah buku, maka ia telah menyelesaikan tugasnya.

Siapa yang bisa mengambil buah pikir yang pernah kita serap? Tak seorangpun. Hanya jika kita tidak memelihara ingatan dan pikiran, maka substansi tersebut akan menguap tanpa sisa. Tak ada orang lain yang bisa mengambilnya.

Lalu apa yang hilang?

Hal-hal terpenting dalam hidup adalah segala yang tak bisa dirampas oleh orang lain. Cinta kasih yang tulus, daya hidup untuk terus berjuang, pikiran yang selalu kita asah… Tak ada yang bisa mengambil semua itu dari kita. Dan ketika seseorang berkenalan dengan kesadaran ini, maka ia menjadi orang yang sangat kaya: ia telah menjadi manusia merdeka.


Ultimus, 8 Mei 2008 ; 20.21

Tuesday, April 15, 2008

What's Going On?

A woman wept on the TV screen. Lamented the fate of her husband, convicted as a terrorist, awaiting death on the hand of the righteous law enforcer. “He’s innocent,” she wailed between her sobs. “He’s my husband.” The picture changed, a man in expensive suit with a boring tie. “It’s decided,” he declared, “Justice must be served.” The anchor woman pop in with a plastic smile, announcing another message of grave importance. Floods, catastrophes, war, human idiocy. They call it news, these tragedies. They believe we need to know.

They told us about this war in distant lands, they move us to do something about it. They call us to act, to go beyond the great sea and fight this war of strangers. Solidarity, brotherhood, justice: their words of wisdom. They forgot one more, though: violence. It’s the core of their actions. Violence; they breathe with it, live with it, can do nothing without it. They can’t help it, this cluster of manhood we call ‘human race’. Violence, it’s their language of ‘truth’.

It’s funny, really, the way they define their values. They’re enraged by the news of strangers died in their faraway lands. They rush out to help, to defend those strangers with whom they never shared earth and waters and blood. Promising God’s heaven to anyone naïve enough to listen (what right do they have, promising something that’s not even theirs to offer?). But when they heard of their own sisters wronged so far away from home, the only word of justice they cried out is silence.

And I thought of a bitter debate I had some time ago, when the same righteous people fought to ban abortion, when they forcefully condemned abortion and calling it evil, calling it murder. Where are they now, as the death penalty hover around demanding it’s toll? Why wouldn’t they call it murder? Why wouldn’t they call it evil?

They believe they’re righteous, these people of values. They blinded their eyes to the double standard upon which they build their values—be it as glaringly obvious as it is. They care not about our own sisters who work as TKW being wronged. They care not of the murders performed by our own so-called law. They care not about the violence of neglect continually done by our own government. They care for nothing but their own values.. they cannot feel nor see the hollow emptiness within those values.

So here I am, weeping for their blindness, weeping for their vast majority, weeping for my helplessness to make a difference.

[Friday, 11 August 2006]