Tuesday, November 10, 2009

me & morning


in a spinning morning,
a myriad of lights came to me, running
woke me up: smiling at them dancing.


10 november 2009 ; 07.03

Monday, November 2, 2009

[soar]

gelombang bergerak, pijak berderak
pada sunyi membadai.
kau kira aku jatuh, runtuh
: terbangku tak butuh sayap
meninggi raih langit.


1 november 2009 ; 01.32

Saturday, September 19, 2009

haiku #8

di pojok senja
langitku melembayung
bertabir awan.


19 september 2009 ; 17.58

Friday, September 18, 2009

senryu # 3

mereka kira
aku serupa arca
: tak punya rasa.


17 september 2009 ; 22.18

Thursday, September 17, 2009

Sunset

When the sunset lights
This ocean bright —
Behold! The scarlet tides.


17 September 2009 ; 13.43

Thursday, September 3, 2009

Tentang Kebahagiaan *

“Happy, but for so happy ill secured.”
- Milton

Gue lihat lu jadi pemasalah di Madrasah Falsafah Tobucil Rabu besok. Ngomongin kebahagiaan, ya? Emang lu bahagia?” ujar seorang kawan di penghujung saluran telepon. Entah mengapa ia merasa terdorong untuk menyengaja bertanya setelah melihat di situs Multiply Tobucil bahwa saya bakal menghantarkan obrolan sore tentang kebahagiaan.

Sumbang suara kekeh saya menjawab tanya yang ia serukan. Ya, saya memang tak punya jawaban lain, selain ketawa [setengah] terpaksa yang pasti bakal diprotes Trie Utami karena nadanya tidakpitch. Sejujurnya, mungkin saya adalah orang yang paling tidak kompeten untuk bicara tentang kebahagiaan. Terlebih jika bahagia yang dimaksud mesti memenuhi standar umum yang berlaku di masyarakat kelas menengah tempat saya menetap.

Nggak percaya? Oke, saya perkenalkan diri saya pada anda. Saya seorang perempuan yang tidak menikah, berusia nyaris 35 tahun. Boro-boro menikah, status saya sebagai jomblo permanen sudah kadung kondang di kalangan para teman dan temannya teman-teman. Kondisi ini saja mestinya sudah bisa bikin depresi dan nyaris bunuh diri, mengingat saya tinggal di sebuah komunitas yang meyakini bahwa perempuan mesti selekasnya ’laku’ dinikahi sebelum usia produktifnya untuk beranak-pinak meredup digilas waktu—namun entah kenapa, sejauh ini saya masih betah hidup dan rajin ketawa-ketiwi.

Itu baru soal status berpasangan. Pekerjaan? Hmm, saya mendapat predikat ’orang aneh’ untuk sektor ini. Soalnya saya selama ini bekerja sekedar untuk menafkahi diri sambil bersenang-senang dalam lingkup berbagai komunitas yang menarik buat saya. Segala diskusi dari politik, filsafat, sampai seni rajin saya kunjungi. Itu sih hobi, maka tak terlalu salah jika seorang kawan menjuluki saya mesin diskusi. Nah, menyadari bahwa saya butuh makan dan biaya transport buat berkeliaran dari satu ruang diskusi ke ruang diskusi lainnya, maka saya bekerja sebagai penyiar di salah satu radio swasta. Buat saya sih, ini menyenangkan. Saya tinggal mengoceh tentang berbagai hal yang memang biasanya jadi bahan obrolan sehari-hari dengan teman-teman, memutarkan lagu-lagu yang saya suka, dan dibayar untuk itu semua. Ya, penghasilannya sekedar nyaris cukup, sih. Tapi ya sudah, lah. Toh saya masih punya waktu untuk berkomunitas dan diskusi sana-sini. Jadi kalau bahagia diidentikkan dengan kelimpahan materi, kemampuan untuk membeli apapun yang diinginkan, atau liburan ke luar negeri, mestinya saya jadi manusia yang sangat sengsara. Sebab kebahagiaan dalam bentuk itu nggak bakal saya cecap dengan penghasilan saya sekarang.

Apa lagi? Keluarga saya sama disfungsionalnya dengan banyak keluarga lain. Hubungan afektif saya dengan teman-teman dekat mengalami naik turun serupa roller-coaster di anjungan Halilintar - Dufan. Kondisi mood saya sehari-hari mirip dengan grafik Nikkei di bursa saham. Relasi asmaratif saya babak belur tak berkesudahan.

Nah, kan! Percayalah, jika merunut semua alasan tadi, saya sungguh tidak kompeten bicara tentang kebahagiaan. Sebab, mestinya saya tidak berbahagia. Dan memang sampai hari ini, saya belum pernah mendeklarasikan diri sebagai orang yang berbahagia.

Selepas obrolan singkat dengan teman lewat telepon yang saya singgung di awal tadi, saya mulai merenungkan kebahagiaan. Saya tergerak untuk mengintip beberapa pendapat orang pintar yang tidak berprofesi sebagai dukun untuk mencari tahu makna bahagia di benak mereka. Lantas saya bersinggungan dengan pendapat John Stuart Mill yang merangkum makna bahagia dalam wadah moral. Kira-kira dia bilang kalau kita melakukan kebaikan, maka tindakan itu bakal membawa kita pada kebahagiaan. Ia juga menyamakan kebahagiaan dengan ’kesenangan dan tiadanya kepedihan’ [pleasure and the absence of pain]. Namun ia juga mengakui bahwa elemen ’kesenangan’ atau pleasure tidak hanya mesti hadir dalam kuantitas yang cukup, tapi juga harus memiliki kualitas yang baik. Ia mengelompokkan ’kesenangan’ dalam himpunan ’kesenangan rendah’ [berkait dengan hal-hal badaniah] dan ’kesenangan tinggi’ [kepuasan intelektual, rasa, imajinasi, dan kepuasan moral]**.

Itu kata Mill. Dia memang cerdas sih, tapi saya nggak sepakat sepenuhnya sama pendapat dia. Soalnya, buat saya pendapatnya itu rada kontradiktif. Semacam hibrid antara kesenangan [pleasure] yang sifatnya cenderung hedonistik bersandingan kontras dengan moral yang [kalau merunut tatanan di masa kehidupan Mill] sekaku ranting dan sekeras batu: lempeng, non-fleksibel, nggak ada lucu-lucunya.

Puas ngomelin tulisan Mill, saya lalu mencoba mengintip makna bahagia menurut J. Krishnamurti. Dia bilang, kebahagiaan itu sekedar merupakan efek samping doang; jadi kebahagiaan sebetulnya nggak terlalu penting. Kebahagiaan—atau tepatnya hal yang biasa dianggap kebahagiaan oleh kebanyakan orang—cuma sensasi sejenak yang niscaya bakal lenyap. Buat Krishnamurti, ada muatan esensial dalam kebahagiaan yang sejati. Maka kebahagiaan bukanlah tujuan akhir, sebab ketika ia menjadi tujuan akhir ia kehilangan makna sejatinya. Susahnya, manusia sering salah menyamakan kebahagiaan dengan sensasi yang membuat kita seakan-akan bahagia ***. Misalnya, seorang pemain sepakbola yang berhasil menembus gawang lawan dan mencetak gol akan merasakan sensasi yang melambungkan rasa, serupa dengan bahagia. Demikian juga dengan pegawai yang berhasil mendapatkan sebuah proyek karena presentasinya yang gemilang, atau seseorang yang tengah jatuh cinta dan berhasil ’jadian’. Sensasi. Semua cuma sensasi belaka.

Manusia tak bisa menemukan kebahagiaan dengan cara ini, menurut Krishnamurti. Bahagia sejati bukan sesuatu yang bisa dicari, dikejar, lalu ditangkap. Sebab kita bukan cicak dan bahagia bukanlah nyamuk. Kalaupun kita berusaha mendapatkan kebahagiaan dengan cara ini, yang kita dapat cuma letupan-letupan kecil sensasi serupa bahagia. Yang mencengangkan saya, Krishnamurti sedemikian keukeuh mengatakan bahagia itu nggak bisa dicari; dan kalaupun kita ngotot nyari, nggak mungkin ketemu; sampai-sampai pernyataan itu dia ulang beberapa kali dalam bukunya. Nah, lho! Mampus dah gue!

Saya panik. Sungguh. Tak bisa saya bayangkan hidup ini bakal berakhir tanpa bisa menemukan kebahagiaan. Sialan Krishnamurti! Saya menyesal baca bukunya.

Menyimak pemikiran orang-orang pintar tadi ternyata hanya membawa saya pada dingin gelap kabut kebingungan. Saya merasa sulit menerima kebahagiaan disejajarkan dengan kesenangan belaka, apalagi dikaitkan dengan moral. Ntar dulu! Moral yang kayak gimana maksudnya, dul? Moral mainstream yang male-stream? Huh! Enak aja. Urusan permoralan ini saja bisa jadi bahan diskusi tersendiri. Tapi saya juga nggak terima Krishnamurti bilang bahagia nggak mungkin ditemukan. Kampret! Terus ngapain gue hidup?

Dan selama berjam-jam saya manyun... Hingga saya merasa semakin tidak bahagia dengan mulut saya yang kian maju menyusul ukuran hidung saya yang tak seberapa signifikan. Cermin memantulkan imaji wajah kusut yang tidak karuan. Sebuah pemandangan blo’on yang membuat saya terbahak sendirian. Bukan tawa sumbang kali ini; tulus dan sepenuh hati saya menertawakan wajah, juga ekspresi kebingungan sejati yang terpancar di raut di yang terpantul di cermin itu.

Apakah saya bahagia? Ah, saya tak berhasil menemukan jawabnya. Mungkin saya mencari referensi yang salah. Mungkin saya tersesat pikir dalam mencari maknanya. Atau mungkin... Hey! Mungkin saya mengajukan pertanyaan yang salah.

Lantas saya memberanikan diri mengajukan pertanyaan dari perspektif yang berbeda. Apakah saya tidak bahagia? Nggak tuh. Saya tidak tak-berbahagia. Saya akui, saya memang jarang mengalami letupan sensasi euphoria yang biasanya diterjemahkan orang sebagai kebahagiaan. Tapi saya tak merasa keberatan dengan kondisi itu. Untuk beberapa orang sebagian pandangan saya berkait dengan moral ataupun tatanan nilai dianggap tak biasa. Namun saya telah lama berdamai dengan kenyataan itu, berdamai dengan perbedaan-perbedaan tersebut. Hidup tak selamanya ramah pada saya, namun sejauh ini saya selalu berhasil menemukan makna [sebagian orang menyebutnya hikmah] dari berbagai pengalaman yang pernah saya lalui—pengalaman menyenangkan ataupun tidak menyenangkan. Ada kalanya saya bersentuhan dengan sedih, getir, atau perih. Tapi semua orang memang selalu mendapatkan porsi tersendiri dari semua rasa itu, kan? Emang ada orang yang seumur hidup nggak pernah sedih? Kalau ada yang ngaku-ngaku, saya yakin dia nipu. Lagian, bahkan ketika tersungkur dalam kesedihan yang terkelam sekalipun, saya selalu punya keyakinan bahwa semua itu sementara. Hari ini sedih, kali aja besok semuanya membaik. Sebab, bukankah tiada hal yang abadi di dunia ini?

Sambil merenung, saya iseng membuka-buka buku catatan, hendak mencari inspirasi untuk menuliskan racau yang tengah anda baca ini. Dan saya menemukan sebuah kutipan dari Albert Camus [sayang saya lupa mengutipnya dari buku yang mana]: “In the midst of winter I finally learned that there was in me an invincible summer.”

Ya, jika kebahagiaan sejati dianalogikan sebagai musim panas yang disebut Camus tadi, maka kebahagiaan memang nggak usah dicari. Sebab ia ada. Selalu ada. Nggak bakal ketemu, kalau dicari diluar diri. Kebahagiaan sejati bermukim jauh di kedalaman hati, menanti kita untuk mengalirkannya dalam tiap sel tubuh, dan merembes di tiap rongga pori. Bahagia sejati nggak perlu diwartakan dalam deklarasi. Tanpa suara dan kata, ia memancar dan menginfeksi. Bahagia tak butuh letupan sensasi. Dengan tenang dan sabar ia menunggu kita untuk membiarkannya mendekap tubuh seperti selimut hangat yang melindungi dari dingin nan sunyi. Kebahagiaan bukan benda; ia tak bisa dimiliki, direbut, atau didominasi. Kebahagiaan bahkan tak butuh alasan untuk mewujud; kitalah yang mesti memelihara kesadaran bahwa ia tak pernah absen ataupun meredup. Kebahagiaan adalah sebuah perjalanan sukacita untuk menjadi.


Jadi, berbahagialah! Sekian dan terimakasih.



3 September 2008 ; 01.24















_________________________

* semacam catatan pengantar obrolan Rabu Sore di Madrasah Falsafah Tobucil Bandung, 3 September 2008

** John Stuart Mill, Utilitarianism

*** J. Krishnamurti, Reflections on the Self